Senin, 18 Februari 2013

Allah punya caranya sendiri

Kuliah di UI membuatku bingung antara ngekos atau pulang pergi. Rumahku di daerah bekasi tergolong tidak jauh dari UI, tapi jauh banget rasanya kalo naik motor. Kira-kira 2 jam kalau tidak macet, kalo macet bisa 1 jam. 1 jam lebih lama maksudnya. hehehe
Dengan alasan tidak tega menyulitkan orang tua, akhirnya saya memilih tinggal di rumah nenek di daerah tanjung priok, jakut. Sama-sama jauh sebenarnya, tapi demi menjalin silaturrahim dengan mbah putriku dan demi menjaga perasaan ibuku--beliau beranggapan kalo dari priok lebih dekat ke UI--. Sekadar info, UI itu letaknya di sebelah selatan jakarta selatan, sedangkan tanjung priok itu letaknya di sebelah utara jakarta utara. Alhamdulillah waktu yang ditempuh memang berbeda dibanding berangkat dari bekasi, yaitu 120 menit.
Pertama kali naik motor, saya sangat semangat dan sama sekali tidak merasa 'ngantuk'. Mungkin karena terlalu banyak mikirin rute jalan.
Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, naik motor mulai terasa berat. Bukan hanya harus bersabar ketika macet, tapi juga harus menahan ngantuk.
Ada beberapa hipotesis saya mengapa bisa 'ngantuk' ketika berkendara:
  1. Pikiran kosong, jadi gampang ngantuk. Saya mengatasinya dengan berbicara sendiri seakan-akan lagi ngeboncengin orang. Sekali, dua kali cara ini berhasil, tapi lama-lama menjadi tidak efektif karena orang yang saya bonceng tidak merespon jadi saya bosan dan pikiran kembali kosong. ngantuk lagi deh, alhamdulillah.. :)
  2. Kurang tidur dan kelelahan. Biasanya ketika jatah tidur kita kurang dan kelelahan akan membuat kita ion tubuh berkurang sehingga mudah ngantuk. *asseek.. Saya mengatasinya dengan minum air mineral atau biar lebih "nampol" minum ponari sweet child o'mine atau makan permen. Kalo lagi puasa, saya biasanya netesin air mineral ke mata, cara ini dapat menghilangkan ngantuk dan menyebabkan mata merah, insyaAllah :)
  3. Kekurangan oksigen. Hal ini biasanya karena kita pake masker atau penutup hidung sehingga oksigen yg kita hirup tidak sebanyak ketika tidak memakai penutup hidung. Saya mengatasinya dengan membuka penutup hidung.

Semua itu sudah pernah saya lakukan tapi terkadang tetep gak bisa ngilangin 'ngantuk'. Cara paling ampuh adalah dengan tidur, pasti ngantuknya ilang. hehehe
Bukan! Cara paling ampuh adalah berdo'a.
Pernah suatu kali saya tidak bawa minum, ngantuk sudah stadium 4. Saya berdo'a dan bertawakkal sambil berusaha menahan ngantuk. Akhirnya Allah menjawab do'a saya. Ya, aku dibiarkan tertidur dan akhirnya nabrak pengendara motor lain.
Alhamdulillah, Allah punya caranya sendiri.
Seteleh nabrak, saya menjadi tidak ngantuk.
Alhamdulillah, Allah punya caranya sendiri.

Beberapa kali saya menabrak pengendara lain. Ada yang marah, ada yang ngeliatin doang ketika saya jatuh, ada yang perhatian banget, dan yang paling parah saya pernah nabrak mobil toyota swift di depan halte balairung UI.
Setelah itu, saya menjadi tidak ngantuk.
Alhamdulillah, Allah punya caranya sendiri.

Kecelakaan terparah saya menyebabkan mobil swift itu penyok bemper belakangnya. Dengan asas kekeluargaan, saya seharusnya mengganti sebesar 1.7 juta. Saat itu belum punya uang dan saya gak mau cerita ke orang tua dengan alasan tidak ingin menambah beban mereka.
Akhirnya, saya bayar cuma beberapa ribu saja untuk biaya ngecat bagian mobil yang lecet. Alhamdulillah korbannya ikhlas--semoga Allah merahmati beliau--.

Kecelakaan tadi membuat saya sangat berjaga-jaga dan semoga itu adalah kecelakaan terakhir. aamiin

Alhamdulillah, Allah punya caranya sendiri... :)

Minggu, 17 Februari 2013

Tolong Nasihati Saya Brother...

Assalamu'alaikum brother :), tolong nasihati saya...

Berikut adalah respon dari my 'konco kentel abis' terhadap sms saya di atas:

  1. Fajar(the next yuman): Jika aku menyerah sekarang, aku akan menyesal seumur hidupku. Mimpi seseorang itu tak akan pernah berakhir.
  2. Harry(ai/ahok): Yuk istiqomah dlm kebaikan.
  3. Isal(santai ae): Hidup mengajarkan kita utk bersyukur di pagi hari, bekerja keras di siang hari, beristiragat dan mengambil hikmah di sore dan malam hari. DIA tau betapa penat dan lelahnya dirimu serta berkurangnya jatah santaimu selama ini. Ikhlas dan ridholah dlm menjalani semuanya karena hanya DIAlah yg Maha Mengetahui apa yg kita butuhkan dan sebaik2nya pemberi balasan. Bersabarlah meniti hari2mu.Tetap berjuang bro.
  4. Feri(pengusaha molen): Pejuang tdk boleh kalah. Kalah dgn dirinya sendiri. Kalah dgn kepentingan pribadi. Kalah dgn ambisi. Kalah dgn ketidakberdayaan. Kalah dgn perasaannya. Pejuang hanya boleh jatuh utk bangun kembali. Pejuang hanya boleh lelah utk bekerja kembali. Pejuang hanya boleh salah utk jd yg lebih baik.
  5. Sona(pengusaha asinan): Gula itu manis. Semua orang jg sudah tau kalo gula itu manis. Suatu minuman jika diberi gula akan terasa manis dan lebih nikmat. Tapi setiap orang punya kadar kemanisan yg berbeda-beda, tergantung orang itu suka yg 'manis sekali' atau 'kurang manis'. Ada yg diberi gula sesendok sudah merasa cukup. Dan ada yg perlu sampai 10 sendok gula. tapi, semanis-manis minuman yg disukai seseorang, tdk akan terasa enak jika 'gulanya' kebanyakan.
  6. Taufik(mekanik sholeh): Ingatlah dan selalu ingatlah ALLAH. Jikat kita sedang diuji, selalu ingat ALLAH. ALLAH before, ALLAH again, and always ALLAH. ALLAHUAKBAR !!
  7. Ahdi(pengusaha ikan): Tidak dpt masuk ke surga seseorang yg dlm hatinya terdapat seberat debu dari sifat ketakaburannya. (HR Muslim)
  8. Febri(ahli ekonomi islam): ALLAH melarang berkeluh kesah pd setiap masalah yg dihadapi krna sebesar-besarnya masalah, masih lebih besar kuasa ALLAH bagi orang yg berharap dan pasrah kpdNYA.
  9. Umam(motivator): Ingat kebahagiaan orang tua.
  10. Panji(arsitek): Diam itu lebih baik daripada banyak berbicara tapi tdk bermakna, terlebih jika bermakna negatif bahkan menyakiti orang lain.
  11. Sigit(atlet ae): Jangan berhenti berhenti berbuat baik dan membagikannya.
  12. Imam(Enterpreneur): Jangan terlalu capek aja yog.

Syukron brother sudah memenuhi salah satu hak saya sebagai seorang muslim, yaitu diingatkan. :)

Sabtu, 03 November 2012

Penggembala Domba



Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra Nabi Muhammad saw pernah bersabda, “Tidak ada seorang Nabi yang Allah utus kecuali ia pernah menggembala domba. Para sahabat bertanya, “Termasuk Engkau wahai Rasulullah? Ia menjawab, “Ya, saya pernah mengembala domba milik orang Makkah dan mendapatkan upah.”

Menggembala domba pada waktu itu selain menjadi salah satu pekerjaan yang menghasilkan uang, ia juga sekaligus menjadi sarana pembinaan rasa untuk tumbuh rasa belas kasihan, kelembutan, cinta, kasih sayang, mengenali, dan memperhatikan baik kepada hewan ternak maupun kepada sesama penggembala.

Menggembala domba memberi ruang bagi Rasulullah saw untuk ke luar jauh dari lingkaran sosial keluarganya, dapat berjumpa dengan sesama penggembala, berbaur di tengah-tengah masyarakat yang kaya pengalaman, berkomunikasi, beradaptasi dan memahami lingkungan di sekitarnya. Masa kecil itu telah memberi kesempatan bagi Rasulullah saw untuk keluar dari teritorial kampungnya mampu melihat hamparan yang luas, menatap ufuk langit, menemukan udara yang bersih, mengenali betapa indah ciptaan Allah di muka bumi ini.

Inilah pelajaran kepemimpinan efektif yang Rasulullah saw lalui dan sempat ia ungkapkan dengan meminjam kata “raa’in” yang berarti penggembala, sebagaimana yang tertulis dalam buku-buku hadits. Kepemimpinan berbasis pengalaman penggembala itu dapat difahamai dalam beberapa point penting berikut ini.

Pertama, penggembala yang baik akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencarikan makanan dan minuman terbaik bagi domba gembalaannya. Inilah kewajiban mendasar para penggembala, yaitu menghadirkan kesejahteraan bagi ternaknya. Demikianlah Allah SWT mempersiapkan Rasulullah saw untuk menjadi pemimpin besar umat ini, dengan memberinya kesempatan menggembala kambing di usia dini.

Perhatian serius terhadap kesejahteraan umat terlihat dalam syariat Islam seperti adanya kewajiban zakat, sedekah, infaq, dsb.

Kedua, penggembala yang baik akan melindungi ternakannya dari ancaman bahaya, baik oleh hewan buas seperti serigala, macan, dll, atau bahaya situasi seperti hujan, angin dan udara yang panas menyengat. Penggembala yang baik itu tidak akan membiarkan hewan gembalaannya berada dalam ancaman bahaya, apalagi diserang oleh hewan pemangsa.

Begitulah Rasulullah saw melindungi umat ini agar tidak menjadi obyek kezhaliman bangsa lain, sehingga ia memerintahkan minoritas Muslim Makkah itu hijrah ke Habasyah, disyariatkannya jihad fi sabilillah adalah salah satu bentuk proteksi umat ini dari ancaman bahaya eksternal.

Ketiga, penggembala yang baik tidak membiarkan hewan gembalaannya melakukan kesalahan atau perbuatan yang membahayakan diri maupun orang lain di sekitarnya. Penggembala itu akan segera menghalau hewan ternaknya yang bergerak mendekati pematang sawah, atau pagar kebun orang lain. Usaha preventif lebih di dahulukan daripada tindakan kuratif pemberian hukuman.

Begitulah Rasulullah saw menghalau siapapun umat ini dari kesalahan atau bahaya yang akan terjadi sekarang atau nanti. Seruan pertama yang Rasulullah saw sampaikan kepada sanak keluarganya ketika memulai dakwah jahriyah kepada keluarga terdekatnya adalah ungkapan: “…selamatkan diri kalian dari api neraka”

Keempat, penggembala yang baik itu akan melatih hewan ternaknya untuk mengoptimalkan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Penggembala domba berusaha agar dombanya bisa menghasilkan susu atau keturunan yang berkualitas. Penggembala sapi melatih sapinya untuk membajak sawah, dan pekerjaan lain yang bisa dilakukannya.

Rasulullah saw memberdayakan sekecil apapun potensi para sahabat untuk dapat berkontribusi. Melatih para sahabat untuk mengemban tugas-tugas dakwah. Mengutus para sahabat untuk melakuan ekspedisi jihad ke berbagai sudut wilayah yang terjangkau ketika itu.

Inilah pengalaman penggembala domba di masa kecil yang melandasi kepribadian Rasulullah sebagai pemimpin besar bagi umat manusia ini. “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang Mukmin,” (QS at-Taubah: 128). Wallahu a’lam bishshawab..

sumber: http://www.sabili.co.id 

Sabtu, 27 Oktober 2012

Sifat Wudhu Rasulullah sholallahu 'alaihi wassalam


A.      DEFINISI WUDHU'
Secara morfologi (bahasa): wudhu berasal dari akar kata (الوُضُوْءُ) yang menunjukkan pekerjaan yaitu pekerjaan mengambil air wudhu' (berwudhu') atau dari kata (الوَضُوْءُ) yang artinya: air wudhu'.
Secara etimologi (syari'at): wudhu' adalah pekerjaan menggunakan atau mengambil jenis air tertentu (yang suci) dengan gerakan-gerakan tertentu untuk mencuci anggota-anggota tertentu yaitu anggota (badan) wudhu' yang disyari'atkan Alloh swt.
B.      DALIL DISYARI'ATKAN WUDHU'
Dalil disyari'atkan wudhu' ada tiga, yaitu:
1)      Dalil dari Al-Qur'an:
Allah swt berfirman:
Artinya:"Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan sholat, Maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki". (QS. Al Maa-idah: 6).
2)      Dalil dari As-Sunnah.
Diantaranya sabda Rosululloh saw:
" لَا يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ ".
Artinya:"Allah tidak menerima sholat salah seorang diantara kalian apabila hadats, sehingga ia berwudhu'". (HR. Bukhori: dan Muslim: 225).
"مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطَّهُوْرُ وَتَحْرِيْمُهَا التَّكْبِيْرُ وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ"
Artinya:"Kunci pembuka sholat adalah bersuci, tahrimnya (penharamannya) adalah takbir, takhlilnya (penghalalannya) adalah salam". (HR. Abu Daud: 60 dan Tirmidzi: 3).
3)      Dalil dari Ijma'
Kaum muslimin telah sepakat dalam menetapkan disyari'atkannya Wudhu' sejak masa Rosululloh saw sampai masa sekarang ini.
C.       KEUTAMAAN WUDHU'
Banyak sekali hadits yang menerangkan dan menjelaskan keutamaan wudhu', diantaranya:
Rosululloh saw bersabda:
"أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوْا : بَلَى، يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: إِسْبَاغُ الوُضُوْءِ عَلَى المَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الخُطَا إِلَى المَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَالِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَالِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَالِكُمُ الرِّبَاطُ".
"Maukah aku tunjukkan kepada kalian beberapa perkara yang dapat menghapuskan dosa dan mengangkat derajat kalian? Mereka berkata: mau ya Rosulalloh saw. (beliau) bersabda: (yaitu) menyempurnakan wudhu' dalam keadaan yang sulit, memperbanyak langkah ke masjid (untuk sholat berjama'ah) dan menunggu sholat sesudah selesai mengerjakan sholat, yang demikian itu adalah perjuangan. yang demikian itu adalah perjuangan. yang demikian itu adalah perjuangan". (HR. Muslim: 1/1151)
"مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الوُضُوْءَ خَرَجَتْ خَطَايَا مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ"
"barangsiapa yang wudhu', kemudian menyepurnakannya, niscaya akan keluar dosa-dosa dari tubuhnya, bahkan akan keluar pula dosa-dosa dari bawah kuku-kuku jarinya".(HR. Muslim: 3/133).
Abu Huroiroh ra bekata bahwa Rosululloh saw:
"إِذَا تَوَضَّأَ العَبْدُ المُسْلِمُ (أَوِ المُؤْمِنُ) فَغَسَلَ وَجْهَهُ، خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيْئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنِهِ مَعَ المَاءِ ( أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ المَاءِ) فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ  خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيْئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ المَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ المَاءِ) فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيْئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ المَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ المَاءِ) حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًا مِنَ الذُّنُوْبِ"
"Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu', lalu mencuci wajahnya, maka keluar dari wajahnya setiap kesalahan yang dipandang dua matanya bersama air (atau bersama tetesan air terakhir). Apabila ia mencuci dua tangannya, niscaya keluar dari tangannya setiap kesalahan yang dilakukan dua tangannya bersama air (atau bersama tetesan air terakhir). Apabila ia mencuci kakinya, niscaya keluar setiap kesalahan yang dijalankan oleh kakinya bersama air (tetesan air terakhir). Sehingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa". (HR. Muslim: 32).
D.      TATA CARA WUDHU' ROSULULLOH SAW
Berikut ini beberapa tata cara yang berwudhu' yang sesuai Sunnah Rosululloh saw:
1)      Berniat wudhu' dalam hati, tanpa diucapkan dengan lisan.
Rosululloh saw bersabda:
"إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، ...".
"sesungguhnya amal itu tergantung pada niat. Dan seseorang tergantung pada apa yang diniatkan....". (HR. Bukhori (Fathul Bari): 1/9 dan Muslim 6/48).
2)      Mengucapkan bismillah
Rosululloh saw bersabda:
"لَا وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يُذْكَرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ"
"Tidak ada wudhu' bagi orang yang tidak mengucapkan nama Alloh padanya". (HR. Abu Daud: 101 dan dishohihkan oleh Al-Bani dalam Shohih Jami' Shoghir:7444)
3)      Membasuh kedua telapak tangan tiga kali.
4)      Madhmadhoh (berkumur-kumur) dan Istinsyaq (menghitung air ke hidung dengan sekali nafas sampai keujung hidung yang paling dalam) serta Istintsar (menyeburkan air dari ujung hidung). Pekerjaan ini dilakukan secara bersamaan /digabung dengan satu telapak tangan saja, sebanyak tiga kali.
5)      Membasuh muka tiga kali, mulai dari ujung kepala tempat tumbuhnya rambut (ujung kening) sampai jenggot, termasuk ujung-ujung telinga dan sendi-sendi antara jenggot dan telinga.
6)      Membasuh dua tangan tiga kali, mulai dari ujung jari kesiku, dimulai dari tangan kanan lalu tangan kiri.
7)      Mengusap kepala satu kali, yaitu dengan membasuh kedua tangan terlebih dahulu lalu mengusapkannya kedepan kepala hingga bagian belakangnya, lalu menjalankannya kembali kedepan. Setelah pekerjaan ini selesai, dilanjutkan dengan mengusap kedua telinga satu kali, dengan air sisa mengusap kepala, yaitu dengan memasukkan kedua telunjuk kelobang telinga sedang ibu jari membasuh bagian luarnya.
8)      Membasuh kedua kaki sampai mata kaki tiga kali, mulai dari ujung jari kaki hingga dua mata kaki, dimulai dari kaki kanan lalu kaki kiri.
عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ، أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوْء ٍفَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَميِنَهُ فِي الوَضُوءِ، ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاثَاً، وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلَاثاً، ثُّمَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ كِلْتَا رِجْلَيْهِ ثَلَاثاً، ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِيْ هَذَا وَقَالَ: "مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِيْ هَذَا ثُمَّ صَلَى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ".
"Sesungguhnya Humron maula Utsman (mengabarkan) bahwa Utsman bin Affan ra meminta air untuk berwudhu', lalu baliau membanjurkan air dari tempatnya lalu mencuci kedua (telapak tangan)nya tiga kali, lalu memasukkan (telapak tangan) kanannya  kedalam air wudhu' dan berkumur-kumur, memasukkan air kedalam hidung dan menghembuskannya keluar. Lalu beliau mencuci mukanya tiga kali, lalu mencuci dua tangannya termasuk sikunya tiga kali. Lalu beliau menyapu kepalanya, lalu mencuci kedua kakinya tiga kali. Kemudian  beliau berkata: saya pernah melihat Rosulalloh saw mengambil air wudhu' seperti saya mengambil air wudhu' ini, seraya beliau bersabda: "barangsiapa yang berwudhu' seperti wudhu saya ini, kemudian ia mengerjakan sholat dua roka'at yang ia tidak berkata-kata (yang jelek) kepada dirinya, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu". (HR. Bukhori : 1/42 dan Muslim: 1/118).
Diriwayat lain:
"ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ، ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى المَكَانِ الَّذِيْ بَدَأَ مِنْهُ ".
"kemudian ia membasuh kepalanya dengan dua tangannya dari depan kebelakang. Dimulai dari bagian depan kepalanya sampai menjalankan kedua tangannya itu kearah tengkuknya, lalu mengembalikannya lagi ketempat semula (bagian depan kepalanya)...". (HR. Bukhori: 1/47 dan Muslim: 1/118)
9)      Berdo'a dengan do'a:
"أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ"
"Aku bersaksi bahawa tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya". (HR. Muslim: 234).
Dari Nu'aim bin Abdulloh Al-Mujmir, ia berkata: didalam riwayat At-Tirmidzi yang dishohihkan oleh Al-Bani dalam Shohihul Jami' Ash-Shohir no. 6043 terdapat tambahan:
"اللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ المُتَطَهِّرِيْنَ"
"Ya Alloh, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang membersihkan diri".
E.       HAL-HAL YANG MEMBATALKAN WUDHU'
1)      Apa-apa yang keluar dari dua jalan yaitu qubul dan dubur, meliputi air kencing, tinja, madzi, wadi dan kentut, baik yang bersuara maupun yang tidak bersuara.
" لَا يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ ".
Artinya:"Alloh tidak menerima sholat salah seorang diantara kalian apabila hadats, sehingga ia berwudhu'". (HR. Bukhori: dan Muslim: 225).
2)      Tidur nyenyak.
Rosululloh saw bersabda:
"العَيْنُ وِكَاءُ السَّهِّ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأَ"
"Mata itu (ibarat) pengikat dubur, maka barangsiapa yang tidur maka hendaknya ia berwudhu'". (HR. Abu Daud: 477).
3)      Hilang akal, baik karena gila, pingsan, mabuk atau karena pengaruh obat.
Hal ini membatalkan wudhu', karena keadaan ini membuat seseorang tidak sadar dan tidak mengetahui keadaan wudhu'nya, apakah telah batal atau belum. Hal ini merupakan kesepakatan jumhur (kebanyakan) Ulama'.
4)      Menyentuh kemaluan secara langsung, tanpa ada batas atau penghalang sedikitpun.
Rosululloh saw bersabda:
"إِذَا أَفْضَى أَحَدُكُمْ بِيَدِهِ إِلَى فَرْجِهِ وَلَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا حِجَابٌ وَلَا سَتْرٌ فَقَدْ وَجَبَ الوُضُوْءُ"
"Apabila salah seorang diantara kalian menyentuh kemaluannya dengan tangan tanpa penghalang atau batas, maka ia wajib berwudhu'". (HR. Hakim: 1/13)
tata cara wudhu: http://www.mediafire.com/?96l5jmjjl0d91nk 

Kamis, 18 Oktober 2012

Tukang Bangunan

Seorang tukang bangunan yang sudah
tua berniat untuk pensiun dari
profesi yang sudah ia geluti selama
puluhan tahun.
Ia ingin menikmati masa tua bersama
istri dan anak cucunya. Ia tahu ia
akan kehilangan penghasilan rutinnya
namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh
istirahat. Ia pun menyampaikan
rencana tersebut kepada mandornya.
Sang Mandor merasa sedih, sebab ia
akan kehilangan salah satu tukang
kayu terbaiknya, ahli bangunan yang
handal yang ia miliki dalam timnya.
Namun ia juga tidak bisa memaksa.
Sebagai permintaan terakhir sebelum
tukang kayu tua ini berhenti, sang
mandor memintanya untuk sekali lagi
membangun sebuah rumah untuk terakhir
kalinya.
Dengan berat hati si tukang kayu
menyanggupi namun ia berkata karena
ia sudah berniat untuk pensiun maka
ia akan mengerjakannya tidak dengan
segenap hati.
Sang mandor hanya tersenyum dan
berkata, "Kerjakanlah dengan yang
terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas
membangun dengan semua bahan terbaik
yang ada."
Tukang kayu lalu memulai pekerjaan
terakhirnya. Ia begitu malas-malasan.
Ia asal-asalan membuat rangka
bangunan, ia malas mencari, maka ia
gunakan bahan-bahan berkualitas
rendah. Sayang sekali, ia memilih
cara yang buruk untuk mengakhiri
karirnya.
Saat rumah itu selesai. Sang mandor
datang untuk memeriksa. Saat sang
mandor memegang daun pintu depan, ia
berbalik dan berkata, "Ini adalah
rumahmu, hadiah dariku untukmu!"
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia
sangat menyesal. Kalau saja sejak
awal ia tahu bahwa ia sedang
membangun rumahnya, ia akan
mengerjakannya dengan
sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya,
ia harus tinggal di rumah yang ia
bangun dengan asal-asalan.
Inilah refleksi hidup kita!

Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini.
Anggaplah rumah itu sama dengan
kehidupan Anda. Setiap kali Anda
memalu paku, memasang rangka,
memasang keramik, lakukanlah dengan
segenap hati dan bijaksana.
Sebab kehidupanmu saat ini adalah
akibat dari pilihanmu di masa lalu.
Masa depanmu adalalah hasil dari
keputusanmu saat ini.